Tak Mampu Ditaklukkan AS dan Israel, Mungkinkah Pemberontakan Domestik Mampu Gulingkan Mojtaba?

Tak Mampu Ditaklukkan AS dan Israel, Mungkinkah Pemberontakan Domestik Mampu Gulingkan Mojtaba?

Ilustrasi

AS dan Israel telah lama mencoba berbagai cara untuk menekan pemerintahan Mojtaba. Namun, setiap upaya ini gagal total di medan pertempuran dan diplomasi. AS dan sekutunya pun bergulat dengan kenyataan pahit. Mereka menyaksikan rezim ini tetap kokoh. Di sisi lain, muncul pertanyaan krusial yang mengusik para analis. Mampukah gerakan dari dalam negeri mencapai apa yang tidak bisa dilakukan kekuatan asing? Pertanyaan ini kini menggema di ruang-ruang diskusi politik global.

Transisi menuju kekuatan internal memang selalu rumit. Banyak rezim otoriter jatuh bukan karena serangan luar, melainkan karena retakan di dalam. Namun, kasus Mojtaba menghadirkan paradoks unik. Ia berhasil membangun narasi perlawanan yang kuat. Narasi ini mengakar pada identitas nasional dan sentimen anti-imperialisme. Publik mungkin lelah dengan isolasi ekonomi. Tetapi, kebencian pada campur tangan asing tetap menjadi perekat sosial yang ampuh. Oleh karena itu, menganalisis potensi pemberontakan domestik memerlukan pendekatan multidimensi.

Dinamika Ketahanan Rezim Terhadap Tekanan Eksternal

Sepanjang dekade terakhir, AS dan Israel menerapkan sanksi paling keras dalam sejarah modern. Mereka memblokade akses perbankan, melarang ekspor minyak, dan melakukan sabotase infrastruktur. Anehnya, ekonomi Mojtaba justru beradaptasi dengan model resistensi. Pemerintah memutar haluan ke mitra dagang timur. Mereka menggalakkan produksi dalam negeri untuk substitusi impor. Alhasil, tekanan luar ini secara paradoks memperkuat citra kemandirian. Bahkan, ketika mata-mata asing membunuh ilmuwan nuklir, rakyat justru berduka dan semakin membenci musuh.

Setiap serangan siber atau pembunuhan tertarget selalu direspons dengan gelombang nasionalisme baru. Momentum ini membuat pihak oposisi domestik kehilangan pijakan. Mereka sulit menggalang massa. Sebab, setiap kritik pada rezim berisiko dianggap sebagai pengkhianatan pada bangsa. Fenomena ini menunjukkan betapa sulitnya memisahkan ketidakpuasan ekonomi dari sentimen patriotik. Selanjutnya, para pengamat melihat adanya mekanisme kepung luar yang justru meredam potensi letupan sosial. Dengan demikian, stabilitas politik jangka pendek masih terjaga.

Struktur Internal dan Loyalitas Aparat Keamanan

Kunci utama ketahanan setiap rezim terletak pada kesetiaan militer dan polisi. Dalam kasus Mojtaba, Garda Revolusi telah menjadi institusi bisnis dan militer yang sangat terintegrasi. Kesatuan ini mengendalikan jaringan ekonomi bawah tanah yang bernilai miliaran dolar. Oleh karena itu, mereka memiliki kepentingan langsung untuk mempertahankan status quo. Pemberian pangkat dan proyek konstruksi besar mengikat prajurit pada kemakmuran pribadi. Akibatnya, muncul spekulasi mengenai celah potensial di kalangan bawah. Namun, belum ada tanda-tanda pembelotan massal.

Selain itu, aparat keamanan juga membangun sistem pengawasan yang ekstensif. Mereka menyusup ke serikat buruh, kampus, dan kelompok profesi. Modal sosial untuk mengorganisir protes besar sangat minim. Di sisi lain, pemerintah pintar memanfaatkan media untuk memecah belah gerakan oposisi. Mereka menuduh aktivis sebagai agen asing. Strategi ini terbukti efektif memadamkan protes spontan pada tahun-tahun sebelumnya. Walaupun kesenjangan ekonomi melebar, ketakutan pada aparat masih dominan. Maka, perubahan dari dalam membutuhkan krisis legitimasi yang ekstrem.

Faktor Ekonomi sebagai Pemicu Potensial

Sejak 2018, inflasi negara ini berfluktuasi di atas 40 persen setiap tahunnya. Nilai mata uang lokal terus merosot terhadap dolar. Pengangguran generasi muda bahkan menyentuh angka 25 persen. Angka-angka ini menciptakan tekanan pada rumah tangga biasa. Menariknya, protes yang terjadi pada 2022 dan 2023 lebih berpusat pada isu hak-hak perempuan. Demonstrasi ini dipicu oleh kasus kematian seorang tahanan. Gelombang protes tersebut benar-benar melumpuhkan beberapa kota. Namun sayangnya, gerakan ini kehilangan arah karena kurangnya kepemimpinan terpadu.

Kemudian, muncul pertanyaan apakah protes serupa dapat berkembang menjadi pemberontakan bersenjata. Banyak analis berpendapat bahwa tidak ada kelompok perlawanan yang terorganisir dengan basis massa luas. Kelompok oposisi di luar negeri juga terpecah belah. Terlebih lagi, rakyat masih mengingat kekacauan perang sipil di negara tetangga. Trauma ini menjadi pertimbangan utama ketika mereka menuntut perubahan. Sehingga, pemberontakan spontan yang tidak terorganisir berpotensi berdarah-darah tapi belum tentu berhasil menggulingkan pemerintah.

Analisis Perbandingan Sejarah dan Skenario Masa Depan

Melihat kembali sejarah revolusi Iran 1979 dan gerakan reformasi 2009, kita dapat menemukan pola yang penting. Jatuhnya Shah terjadi ketika militer ragu-ragu menembak pengunjuk rasa. Kemudian, popularitas Ayatollah Khomeini mampu menyatukan berbagai lapisan. Berbeda dengan itu, saat ini tidak ada figur tunggal yang mampu menyatukan seluruh elemen oposisi. Gerakan protes Wanita, Kehidupan, Kebebasan memang menginspirasi dunia. Akan tetapi, mereka belum berhasil membuka dialog dengan kelompok etnis minoritas dan kelas pekerja konservatif.

Selanjutnya, skenario yang lebih mungkin terjadi adalah perpecahan internal yang lambat. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan bisa membuat para elit berkonflik. Kebijakan suksesi kepemimpinan juga menjadi titik rawan. Jika Mojtaba wafat secara mendadak, maka perebutan kekuasaan internal akan pecah. Pada fase inilah, pemberontakan domestik berpeluang menyeruak. Akan tetapi, pihak militer hampir pasti akan membentuk pemerintahan transisi yang kuat. Dengan kata lain, meskipun rezim lemah, mereka masih memiliki cara untuk bertahan.

Kesimpulan: Peluang yang Sangat Terbatas namun Bukan Nol

Menyimpulkan analisis ini, kita harus realistis. Israel dan AS memang menghabiskan energi besar untuk menjatuhkan Mojtaba. Namun, seluruh instrumen mereka – mulai dari sanksi hingga operasi rahasia – tidak menggoyahkan kekuasaannya. Akibatnya, perhatian beralih pada potensi ledakan dari dalam. Meskipun demikian, berbagai hambatan struktural masih dominan. Faktor kepemimpinan, kendali aparat, dan trauma perang sipil menumpulkan potensi revolusi.

Kendati demikian, sejarah mengajarkan bahwa rezim yang tampak kuat bisa runtuh dalam hitungan minggu. Ketika infrastruktur ekonomi runtuh dan kepercayaan publik lenyap, maka rezim akan rapuh. Pemberontakan domestik membutuhkan momen di mana militer kehilangan kohesi. Momen tersebut belum tercipta. Saat ini, Mojtaba masih memegang kendali. Jadi, masa depan negara ini sangat bergantung pada seberapa cepat generasi muda menemukan strategi baru yang efektif. Kita hanya bisa menunggu waktu apakah peluang sekecil itu akan muncul. Dengan kondisi saat ini, pemberontakan domestik yang berhasil tampaknya sangat jauh dari kenyataan.

Baca Juga:
Penthouse Mojtaba di London Dekat Kedubes Israel

Tinggalkan Balasan

Proudly powered by WordPress | Theme: Looks Blog by Crimson Themes.